Lebih dari Sekadar Angka: Hancurnya Tabungan Masa Depan
Secara resmi, PTPN I Regional V mencatat kerugian finansial sebesar Rp 435 juta akibat perusakan 6.661 batang kopi muda di lahan seluas 4,6 hektar. Namun, angka-angka ini tak mampu menangkap kedalaman tragedi kemanusiaan yang terjadi. Bayangkan pemandangan itu: di tengah aroma tanah basah dan patahan ranting kopi, yang terdengar bukanlah senandung panen, melainkan isak tangis pilu. Para perempuan itu tidak meratapi kerugian perusahaan; mereka meratapi masa depan yang baru saja dicabut dari akarnya.
Pohon-pohon kopi tersebut adalah Tanaman Belum Menghasilkan (TBM). Artinya, kerja keras dan keringat mereka selama dua tahun penuh dihancurkan tepat sebelum mereka dapat memetik panen pertama. Bagi para buruh ini, setiap batang kopi yang patah adalah nisan bagi mimpi-mimpi mereka—mimpi menyekolahkan anak, memperbaiki rumah, atau sekadar memiliki hari tua yang tenang. Ini bukanlah kerugian aset korporasi; ini adalah perampasan masa depan yang terjadi di siang bolong. Di tengah keputusasaan, terdengar rintihan lirih mereka, sebuah doa yang menyuarakan kepedihan mendalam: "Der kening tolah, Pak … (Semoga pelaku tertimpa azab)."
Pejuang Agraria: Ketika Bertahan Dianggap Melawan Negara
Bagi para petani, ini bukan sengketa, melainkan pertahanan. Mereka tidak melihat diri mereka sebagai penjahat, melainkan sebagai "pejuang agraria" yang berjuang mempertahankan ruang hidup yang telah menjadi bagian dari sejarah keluarga selama puluhan tahun. Perjuangan mereka mengingatkan pada kasus historis di Jogomulyan, Malang, di mana para petani telah menggarap lahan bekas perkebunan Belanda sejak kemerdekaan tahun 1945, sebelum akhirnya tanah itu diambil alih secara sepihak. Mereka berjuang untuk tanah yang telah menyatu dengan identitas dan napas kehidupan mereka.
Namun, narasi ini berbenturan keras dengan pandangan PTPN yang melabeli mereka sebagai "oknum" yang menduduki lahan negara secara ilegal. Dari sudut pandang korporasi, tindakan para petani dianggap sebagai sabotase ekonomi. Pertarungan antara narasi "pejuang" dan "oknum" ini menempatkan para petani dalam posisi yang sulit, di mana upaya untuk mempertahankan hidup justru dianggap sebagai tindakan melawan negara.
Gema Tangisan dalam Setiap Tegukan
Kisah di Ijen adalah pengingat yang menyakitkan bahwa di balik setiap produk yang kita nikmati, sering kali ada cerita manusia yang tidak terdengar. Di balik setiap cangkir Kopi Ijen yang diseduh, ada gema tangisan dan harapan yang patah dari para buruh tani yang masa depannya direnggut. Konflik ini, pada intinya, bukanlah sekadar sengketa aset atau angka kerugian, melainkan pertarungan tentang kehidupan, martabat, dan masa depan manusia.